Mary Jane Seacole sempat luput dari perhatian sejarah selama lebih dari satu abad lamanya. Sosok wanita dari Jamaika ini lahir pada tahun 1805 yang tak hanya berprofesi sebagai perawat saja. Melainkan pionir kemanusiaan yang menghadapi diskriminasi rasial, namun tetap berani dan memiliki dedikasi tinggi.
Untuk mengetahui perjalanan Mary Jane Seacole, salah satu pahlawan wanita dalam dunia medis, Anda bisa simak informasinya di bawah ini.
Keturunan Campuran dan Awal Mula Tertarik dalam Dunia Medis

Mary Jane Seacole lahir dengan nama Mary Jane Grant di Kingston, Jamaica. Ibunya merupakan seorang “doctress”, sebutan lokal untuk tabib perempuan yang menggabungkan pengetahuan herbal dari Afrika dan Karibia. Sementara ayahnya merupakan seorang perwira Skotlandia dalam angkatan bersenjata Inggris.
Dari latar belakang inilah, Mary tumbuh dengan warisan budaya campuran serta kaya akan pengetahuan dari dunia medis tradisional.
Sejak kecil, Mary Jane Seacole sudah menunjukkan ketertarikannya dalam dunia kesehatan. Ia belajar langsung dari ibunya yang memiliki penginapan serta klinik kecil untuk membantu merawat para tentara sakit.
Ketika mulai tumbuh remaja, Mary mulai berinisiatif untuk mengembangkan kemampuannya sendiri dalam meracik obat herbal. Obat-obatan yang ia buat berguna untuk mengatasi berbagai penyakit tropis, seperti demam kuning, disentri hingga kolera.
Pergi Ke Luar Negeri Hingga Membantu korban Perang
Saat usianya masih muda, Mary Jane Seacole tak ingin berdiam terus di Jamaika. Ia memutuskan pergi berkelana ke berbagai negeri, mulai dari Bahama, Haiti, Kuba hingga Inggris. Sepanjang perjalanannya, ia selalu membawa obat-obatan herbal serta menawarkan jasanya sebagai seorang perawat.
Dari perjalanan ini, keahliannya semakin terasah dalam merawat berbagai macam penyakit. Hingga dirinya mulai terkenal di komunitas medis informal.
Pada tahun 1853, terjadi perang Krimea yang membuatnya terdorong untuk membantu para tentara Inggris. Sebab, para tentara itu cukup menderita akibat kondisi kesehatan buruk selama di medan perang.
Mary Jane Seacole mulai melakukan perjalanan ke London serta mengajukan diri ke Departemen Perang Inggris sebagai perawat sukarelawan. Sayangnya, lamaran yang ia ajukan langsung mendapat penolakan. Diduga alasannya karena latar belakang ras serta gender yang ia miliki.
Pendiri “British Hotel” Krimea: Aksi Nyata di Medan Perang
Meskipun sudah mendapat penolakan, Mary Jane Seacole tak kenal apa itu menyerah. Ia mendanai sendiri perjalanannya menuju Krimea, lalu mendirikan British Hotel bersama rekannya bernama Thomas Day. Hotel ini merupakan penginapan sekaligus rumah sakit lapangan untuk merawat para tentara yang sakit dan terluka. Letaknya sangat strategis dengan medan perang, sehingga menjadikannya sebagai tempat berlindung aman bagi para tentara yang terlantar.
Dari hotelnya, Mary tak hanya merawat fisik para tentara, tetapi memberikan dukungan emosional, memberikan makanan bergizi hingga kehangatan rumah bagi mereka yang jauh dari tanah air.
Ia pun mendapat julukan sebagai ‘Mother Seacole’ dari para tentara karena kepeduliannya yang begitu tulus. Bahkan, dirinya berani masuk ke zona perang untuk memberikan pertolongan langsung kepada tentara yang terluka. Aksi ini menjadi sesuatu yang jarang paramedis perempuan lakukan pada masa itu.
Kehidupan Setelah Perang dan Ketidakadilan Sejarah
Pasca perang berakhir, Mary Jane Seacole kembali ke Inggris dalam kondisi finansial sulit. Dirinya mulai bangkrut karena uang yang ia miliki habis untuk biaya operasional perang. Beruntung, banyak veteran serta tokoh masyarakat Inggris yang mengenang jasanya. Sehingga, segera menggalang dana untuk mendukung kelanjutan hidupnya.
Pada tahun 1857, ia pun menerbitkan autobiografi-nya bertajuk “The Wonderful Adventures of Mrs. Seacole in Many Lands”. Autobiografi ini menjadi buku pertama yang ditulis oleh perempuan berkulit hitam di Inggris. Isi bukunya menggambarkan tentang keberaniannya selama di medan perang serta perjalanan hidupnya yang luar biasa.
Sayangnya, meski sempat terkenal pada masanya, nama Mary Jane Seacole mulai terlupakan selama bertahun-tahun. Sebab, sejarah lebih menyoroti Florence Nightingale, padahal keduanya sama-sama memiliki kontribusi besar di medan perang yang sama.
Bentuk Warisan Serta Rehabilitasi Nama Mary Jane Seacole
Memasuki abad 21, barulah nama Mary Jane Seacole mulai mendapat perhatian layak. Banyak organisasi kesehatan, akademisi hingga penggiat sejarah mulai mengkaji ulang perannya dalam dunia medis dan perang. Hingga akhirnya Mary terpilih sebagai “The Greatest Black Briton” dalam survey publik pada tahun 2004.
Patung Mary Jane Seacole mulai didirikan pada halaman St Thomas Hospital, London, pada tahun 2016. Kini, banyak rumah sakit, sekolah keperawatan hingga yayasan yang menggunakan namanya sebagai simbol keberanian serta pelayanan tulus.
Kisah Mary Jane Seacole bukan hanya tentang keberanian, tetapi perjuangan melawan diskriminasi serta keberhasilannya merawat dengan tulus di medan perang. Dalam era modern ini, warisannya mengingatkan pada kita bahwa kemanusiaan tidak mengenal warna kulit serta jasa seseorang tidak boleh dinilai dari latar belakang ras serta gendernya.
